Tepatnya tanggal 16 agustus 2009 kemarin, diadakan orientasi mahasiswa baru biologi stain cirebon yang bertempat di kampus Stain Cirebon. pelaksanaan OMB ini di ikuti sekitar 152 mahasiswa baru yang diterima di program studi biologi dan dibagi dalam 14 kelompok. panitia sendiri dari Badan Eksekutif  Mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN CIREBON yang mendelegasikan kepada Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO), jadi sebagai pelaksana langsung adalah dari HIMBIO STAIN CIREBON. pada OMB tahun 2009 ini, sebagai ketua pelaksana adalah kang Ali Imron mahasiswa semester V.

Allhamdulillah acara OMBnya berjalan lancar walaupun ada sedikit hambatan, hal ini tidak terlepas dari kerjasama dan partisipasi seluruh pengurus HIMBIO Stain Cirebon. acaranya sendiri dimulai dari pukul 07:00- 15.30 , dengan tema “Aktualisasi Nilai-nilai Islam dalam Pemgembangan Sains Biologi”, dengan maksud agar mahasiswa baru dapat menjabarkan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam sains biologi dan mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa biologi stain dapat mengembangkan ilmu biologi yang mereka miliki dengan didasarkan pada nilai-nilai religius.

Tepat pukul 07.00 Mahasiswa baru sudah mulai kumpul di depan rektorat untuk dilakukan checking peserta oleh panitia serta menyerahkan semua persyaratan yang telah ditentukan panitia pada saat technikal meeting. acara selanjutnya yaitu pembukaan orientasi mahasiswa baru Biologi stain cirebon 2009 yang bertempat di gedung rektorat lantai 2. adapun susunan acara pembukaan adalah:

1. pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr Asep

2. Sambutan- sambutan oleh ketua pelaksana, ketua umum HIMBIO, dan dilanjutkan dengan sanbutan dari Kaprodi Biologi Stain CIrebon Bpk Djohar Maknun, Msi yang sekaligus meresmikan pembukaan OMB Biologi th 2009. pada sambutanya ketuplak megucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyukseskan acara tersebut, sambutan dilanjutkan oleh ketum Himbio Muhibburrahman.. dalam sambutanya kang Muhib menekankan betapa pentingnya nilai-nilai islam dalam mengembangkan biologi, menurut dia ilmu pengetahuan yang didapat oleh mahasiswa khususnya sains biologi harus seimbang dengan nilai-nilai islam. sementara Bpk Djohar Maknun, M.Si sendiri dalam sambutanya menyampaikan selamat datang kepada Mahasiswa baru. beliau juga menyampaikan beberapa pesan moral, diantaranya agar kita jangan sampai melupakan orang yang telah menyukseskan kita yaitu orang tua.. istilah pepatah adalah jangan sampai kacang lupa akan kulitnya. dalam sambutanya pula beliau ditantang oleh pihak lembaga untuk membuka kelas biologi menjadi 6 kelas, walaupun sebenarnya mahsiswa yang berminat pada biologi saat mendaftar mencapai kuota untuk 6 kelas, namun untuk saat ini tetap mempertahankan 3 kelas yang diterima di prodi biologi dengan alasan beliau adalah lebih mengutamakan KUALITAS daripada KUANTITAS. Alasan yang patut menjadi contoh bagi kita semua.

acara selanjutnya ditutup dengan pembacaan do’a oleh sdr Mudatsir…  acara pembukaan OMB secara resmi dibuka…

menginjak acara selanjutnya yaitu selayang pandang Biologi Stain Cirebon yang di isi oleh Bpk Drs. Endang Abdurrahman, M.Pd. dengan moderator sdr Cipta Anto. dalam penyampaianya pemateri mengulas sejarah berdirinya BIOLOGI STAIN CIREBON.

acarapun dilanjutkan dengan perkenalan seluruh panitia OMB yaitu dari HIMBIO, acara perkenalan juga diselingi dengan beberap[a permainan disamping mengenalkan apa itu HIMBIO kepada peserta yang hadir…selanjutnya diisi dengan materi ESQ yang di sampaikan oleh ibu NOvianti Muspiroh, M.P. dalam penyampaianya ibu novi menyemangati seluruh mahasiswa yang hadir untuk terus berusaha dan jangan menyerah.. sebagai penutup dari materi ESQ selurum mahasiswa yang hadir menyanyikan lagu “JANGAN MENYERAH” dari D’MASIV.

setelah peserta OMB istirahat, sholat, dan makan, dilanjutkan dengan acara forum keakraban yang di isi oleh pementor dari panitia, adapun tema yang di ambil dalam diskusi antara peserta denga pementor tersebut adalah GLOBAL WARMING..

setelah acara mentoring selesai dilanjutkan dengan permainan yang telah disiapkan oleh panitia, pada acara tersebut semua peserta kelihatan riang dan gembira dan mereka merasa bangga menjadi mahasiswa biologi. sebelum acara ditutup panitia melakuakan teatrikal didepan mahasiswa baru karena pada hari itu ada salah satu mahasiswa baru yang berulang tahun..

tepat Pukul 15.00 acara penutupan OMB biologi Stain Cirebon secara resmi ditutup oleh ketua pelaksana, acara pun diakhiri dengan salaman dari peserta kepada panitia…

Allhamdulillah Acara OMB pun telah dilaksanakan dengan baik.. harapan penulis semoga tahun depan pelaksanaan OMB lebih baik lagi, amiin..

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Dewasa ini perkembangan kondisi ekonomi, social, budaya masyarakat semakin pesat. Dunia sedang memasuki zaman informasi, bangsa-bangsa yang belum maju ada dorongan untuk mengejar ketertinggalannya sehingga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat ikut serta memasuki zaman informasi yang pada akhirnya terciptalah era globalisasi. Era globalisasi mengharuskan setiap komponen dari masyarakat untuk berpacu, meningkatkan kompetensi sehingga mampu menjawab tantangan zaman. Begitu juga halnya dengan lembaga pendidikan, sebagai pencetak generasi penerus bangsa, lembaga pendidikan sudah semestinya bertanggung jawab secara penuh dan terarah untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa agar mampu bersaing, termasuk di dalamnya kemampuan untuk mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia karir yang diminatinya.

Sebenarnya belajar diperguruan tinggi bukan suatu pekerjaan yang berat, karena tidak terlalu padat seperti belajar di SMA. diperguruan tinggi, mahasiswa hanya mengikuti kuliah pada hari-hari dan jam-jam tertentu saja. kondisi tersebut sebenarnya menguntungkan, karena mahasiswa dapat memanfaatkan waktu yang tersedia dengan berbagai macam kegiatan, baik akademik maupun non akademik. namun dalam kenyatanya ada saja problematik yang sering ditemui para mahasiswa, seperti kesulitan mengikuti perkuliahan, kejenuhan dan kemalasan,kurang motivasi, ketidakmampuan mengelola waktu, keuangan, pergaulan, indekost, masalah cinta dll.

Semua problematika diatas sebenarnya suatu hal yang biasa dalam kehidupan mahasiswa. mahasiswa memang sedang mengalami transisi dari remaja menuju dewasa. mengatasi problematika tersebut tidaklah mudah. Sebagai mahasiswa memang sedikit banyak harus mengatasi masalahnya sendiri. Namun mengapa banyak mahasiswa yang nilai IP-nya minim, kuliahnya terkatung-katung dan tidak kunjung usai.

Pada penelitian yang ditemukan Kramer, dkk (dalam Herr, 1996:292) terhadap mahasiswa Universitas Cornell ditemukan 48 % mahasiswa laki-laki dan 61 % mahasiswa perempuan mengalami masalah dalam pilihan dan perencanaan karir. Penelitian lain menemukan bahwa sebagian mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi di Amerika menginginkan adanya pendampingan dalam perencanaan karir atau pilihan karir. Dari penelitian tersebut ditemukan betapa butuhnya mahasiswa terhadap pembimbingan (Assistance) terhadap karir yang akan ia tuju. Agus Rianto (2006) mengemukakan banyak tantangan yang akan dihadapi mahasiswa dalam menentukan karir, diantaranya adalah ketidak pastian karir, pengaksesan informasi dan program pengembangan karir, dan tantangan-tantangan ekonomi dan teknologi. Untuk mengantisipasi tantangan-tangan ini perlu bagi perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan yang optimal terhadap perkembangan karir mahasiswa

A.Muri Yusuf, (2006) mengatakan program Konseling Karir di perguruan tinggi, lebih banyak dikemas untuk: (1) mendorong perkembangan karir, (2) menyediakan treatment dan (3) menolong dalam penempatan. A.Muri Yusuf menegaskan bahwa kemasan konseling karir disatuan pendidikan banyak diwarnai oleh tujuan dan tingkatan satuan pendidikan disatu pihak dan perkembangan diri individu sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya dipihak lain. Melalui pendidikan tiap individu mendapatkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan serta penanaman sikap dan nilai-nilai sesuai dengan tujuan satuan pendidikannya.

Mahasiswa sebelum memasuki perguruan tinggi pada umumnya telah menentukan pilihan program studi ataupun jurusan yang akan diambilnya berdasarkan pengetahuan, minat dan bakat serta jenis pekerjaan yang akan diembannya setelah menamatkan pendidikannya nanti.

Pendidikan tinggi dalam hal ini jurusan atau pun program studi telah mempersiapkan seperangkat paket pembelajaran (kurikulum) yang harus diselesaikan mahasiswa dalam waktu tertentu (3 tahun untuk tingkat akademi, dan 4 tahun untuk tingkat strata S1). Kurikulum pendidikan tinggi telah dirancang sedemikian rupa, sehingga mahasiswa yang telah menamatkan pendidikannya sudah memiliki kompetensi sesuai dengan pekerjaan atau jabatan yang akan diembannya.

Dalam kurikulum dikenal dengan kompetensi utama minimal yang terdiri dari Kompetensi Pengembangan Kepribadian.(KPK), Kompetensi Landasan Keilmuan dan Keterampilan (KKK), Kompetensi Keahlian Berkarya (KKB), dan Kompetensi Berkehidupan Bermasyarakat (KBB). Secara terintegratif pelayanan dosen dalam menyajikan perkuliahan menggunakan berbagai metode seperti seminar, workshop, pengalaman lapangan, penelitian dan tugas akhir sesuai dengan tujuan kurikuler dan tujuan institusional. Mengacu kepada kurikulum tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan tinggi merupakan lembaga pendidikan keahlian, keterampilan dan pra occupational.

  1. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian diatas dan berbagai macam problematika mahasiswa tersebut, pada makalah ini penulis merinci rumusan masalah yang akan dibahas. Rumusan masalah tersebut diantaranya:

    1. Apa saja problematika yang dihadapi oleh mahasiswa secara umum?
    2. Apa dan bagaimana peran dosen dalam bimbingan konserling?
    3. Bagaimana bimbingan dan konseling di perguruan tinggi?
    4. Bagaimana bimbingan karir di perguruan tinggi?
  1. TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah

    1. Agar mahasiswa dapat mengenali potensi dirinya baik sebagai individu, maupun sebagai kelompok.
    2. Mahasiswa dapat mengatasi masalah yang menimpa dirinya
    3. Mahasiswa dapat mengembangkan minat dan bakatnya, sehingga dapat di implementasikan dan dikembangkan pada saat terjun kemasyarakat ataupun dunia kerja.
    4. Bagi dosen agar mengetahui fungsinya selain sebagai pengajar juga sebagai konselor di perguruan tinggi.

BAB II

BIMBINGAN KONSELING DI PERGURUAN TINGGI

  1. KARAKTERISTIK MANUSIA

Pengetahuan tentang hakekat dan kedudukan manusia merupakan bagian amat esensial, karena dengan pengetahuan tersebut dapat diketahui tentang hakekat manusia, kedudukan dan perananya di alam semesta ini. Manusia merupakan pribadi yang unik, yang mempunyai kesiapan dan kemampuan fisik, psikis serta intelektual yang berbeda satu sama lainya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al- Qur’an surat Al- Israa ayat 21:

Artinya:

”Perhatikanlah bagaimana kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). dan pasti kehidupan akhirat lebih Tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya”. (QS. Al- Israa’ ayat 21)

Ayat diatas merupakan isyarat yang jelas tentang karakteristik manusia, yaitu tentang adanya perbedaan individual antar manusia. demikian juga dalam lingkungan kampus, sebagai mahasiswa mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lainya. Al-Quran menggambaarkan manusia sebagai suatu makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifahnya di bumi, Yang di dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui Tuhan, bebas terpecaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alm semesta, serta karunia keunggulan terhadap alam semesta, langit dan bumi. Tetapi dengan kedukungan yang demikian, manusia sering melupakan hakekat dirinya sebagai hamba Allah. Manusia sering bertndak sewenang-wenang, tidak mematuhi aturan yang mengikat dirinya, dan sering merasa congkak dan takabur terhadap Allah SWT.

Manusia dilahirkan sebagai pribadi dengan ciri-ciri karakteristik individualnya. Pribadi manusia setiap mengahadapi lingkungan hidupnya dengan mana ia harus menyesuaikan keunikan pribadinya. Dalam proses penyesuaian ini pribadi menghadapi pribadi lain. Mereka saling mempengaruhi sehingga pribadi masing-masing saling berkembang. Sebagai pribadi, manusia harus mengadakan berbagai pilihan pribadi dalam proses penyesuaian, dan kadang-kadang manusia menghadapi persoalan-persoalan pribadi. pada umumnya manusia sebagai pribadi dapat dengan mudah menyelesaikan masalah-masalanya sendiri tanpa bantuan manusia lain. Tetapi banyak pula pribadi yang tidak mampu memecahkan persoalan pribadinya dengan baik. Pribadi demikian sangat membutuhkan solusi dari pribadi lain.

Perbedaan karakteristik dari manusia tidak lain karena perbedaan antar individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya serta memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Menurut Maslow, kebutuhan pokok manusia terdiri dari 6 tingkat yang dapat mendorong prilakunya, kebutuhan tersebut antar lain:

  1. Kebutuhan Fisik (Physilogical Needs) yang diperlukan untuk mempertahankan hidup, kebutuhan ini disebut juga sebagi kebutuhan primer, seperti Makan, istirhat , udara yang segar air dll.
  2. Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs). seorang akan terganggu pada situasi yang kacau dan ia mudah menarik diri dalam situasi yang membahayakan.
  3. Kebutuhan untuk mencintau dan dicintai (Love Needs) merupakan dorongan dan kehausan baginya untuk mendapatkan tempat dalam suatu kelomok dimana ia memperoleh kehangatan perasan dalam hubungan dengan masyarakat lain secara umum.
  4. Kebutuhan akan harga diri (Esteem Needs). Menuntut pengakuan individu sebagai pribadi yang bernilai.
  5. Kebutuhan akan aktualisasi diri (Self actualization). Memberikan dorongan kepada individu untuk mengembangkan seluruh potensi dalam dirinya.
  6. Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti (Desire to know and to understand). Tampak pada individu yang cenderung untuk mensistematisasikan segalnya, menganalisis, mengorganisasi, dan mencari hubunganya dalam kesatuan yang utuh.

Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tentang karakteristik manusia tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Dari berbagai aliran filsafat yang ada, para penulis Barat .(Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut:

  1. Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.
  2. Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya.
  3. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.
  4. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol keburukan.
  5. Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam.
  6. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri.
  7. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.
  8. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu.
  9. Manusia pada hakikatnya positif, yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu

Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya.

  1. PROBLEMATIKA MAHASISWA

Sebenarnya belajar diperguruan tinggi bukan suatu pekerjaan yang berat, karena tidak terlalu padat seperti belajar di SMA. diperguruan tinggi, mahasiswa hanya mengikuti kuliah pada hari-hari dan jam-jam tertentu saja. kondisi tersebut sebenarnya menguntungkan, karena mahasiswa dapat memanfaatkan waktu yang tersedia dengan berbagai macam kegiatan, baik akademik maupun non akademik. namun dalam kenyatanya ada saja problematik yang sering ditemui para mahasiswa, seperti kesulitan mengikuti perkuliahan, kejenuhan dan kemalasan,kurang motivasi, ketidakmampuan mengelola waktu, keuangan, pergaulan, indekost, masalah cinta dll.

Mayoritas masalah mahasiswa ialah kemungkinan-kemungkinan bekerja sambil kuliah, ekonomi orang tua lemah, kesulitan biaya hidup mempersiapkan diri mengikuti persaingan untuk masuk kerja. Permasalahan yang banyak muncul dari mahasiswa diantaranya takut menjadi pengangguran, salah pilih program studi, memilih alternatif pekerjaan, upaya mendapatkan pekerjaan paroh waktu (part time), tidak memahami potensi diri dan sebagainya, yang tentunya dalam pelayanan konseling bisa dilaksanakan konseling kelompok, hal-hal berkenaan dengan fenomena-fenomena di lapangang tentang suatu hal, seperti : mempersiapkan diri menempuh ujian CPNS, pelayanan konseling yang dapat diberikan adalah layanan bimbingan kelompok, baik topic tugas maupun topic bebas.

Menurut Paryati Sudarman dalam bukunya yang berjudul belajar efektif di perguruan tinggi, Problematika yang sering di hadapi mahasiswa ketika belajar di perguruan tinggi adalah:

1) Kejenuhan dan Kemalasan

Belajar di perguruan tinggi memakan waktu yang tidak sebentar. hal ini sering kali mendatangkan rasa jenuh dan malas belajar. Belum lagi tuntunan kemandirian yang lain yang akan membawa pengaruh terhadap kehidupan psikis.

2) Ketidakmampuan mengelola waktu

Waktu tak pernah kembali. itulah falsafah waktu. efektifitas belajar di perguruan tinggi sangat bergantung pada bagaimana mahasiswa mengelola waktu tersebut. dengan keterbatasan waktu tersebut mahasiswa dituntut untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

3) Kurang berminat pada mata kuliah atau dosen tertentu.

Kurangnya minat pada matakuliah atau dosen tertentu dapat menjadi penghambat mahasiswa dalam belajar di perguruan tinggi. Demikian pula halnya dengan dosen, bila anda tidak suka dengan dosen tersebut,usahakan untuk tetap mengikuti perkuliahannya. Anda tidak mungkin menghindar dari dosen yang bersangkutan. Hilangkan perasaan tidak suka pada dosen tersebut.

4) Keuangan

Kekurangan dan kelebihan uang akan menjadi problematik selama belajar di perguruan tinggi. kekurangan uang akan menghambat mahasiswa dalam belajar karena tugas-tugas dan masalah yang berhubungan dengan finansial solusinya kurang dapat diatasi tanpa keuangan yang cukup. sebaliknya kelebihan uang pun bisa menjadi masalah bagi mahasiswa. Mahasiswa yang mempunyai banyak uang biasanya cenderung menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang tidak penting (konsumtif). Fasillitas yang tersedia di kota besar sangat banyak, sehingga akan menjadikanya terlena dan lupa akan tugasnya sebagai mahasiswa.

5) Lingkungan pergaulan

Keberhasilan belajar di perguruan tinggi juga dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan anda, jika anda bergaul pada lingkungan yang kondusif, anda tidak akan mengalami hambatan dalam belajar. Tetapi jika anda berada dalam pergaulan yang tidak kondusif, anda akan mengalami hambatan dalam belajar. Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami drop out karena pengaruh lingkungan pergaulan.

6) Tempat kost

Bagi yang berasal dari daerah lain atau kota lain, tempat kost adalah tempat yang sangat menentukan. Ditempat kost itulah anda akan belajar, istirahat dan bahkan bersosialisasi dengan lingkunganya.

7) Cinta dan pergaulan bebas

Problematik yang palimg krusial yang paling banyak dialami oleh mahasiswa adalah masalah cinta. Jatuh cinta, pacaran , patah hati adalah siklus klasik, yamg hampir semua orang mengalaminya, termasuk mahasiswa. Namun dalam kennyataanya banyak pula mahasiswa yang mengalami hambatan belajar di perguruan tinggi hanya karena cinta.

  1. PERAN DOSEN

Mengenai mutu pendidikan khususnya tingkat  prestasi belajar selalu menjadi bahan pembicaraan dari berbagai kalangan, baik birokrat, pemerhati, pengelola perguruan tinggi maupun dari kalangan dosen. Pertanyaan mendasar yang diajukan, adalah: Mengapa mahasiswa yang mempunyai tingkat prestasi belajar rendah cukup besar, dapatkah tingkat prestasi tersebut ditingkatkan? Bila dapat bagaimana cara meningkatkannya. Hal ini mungkin disebabkan karena mahasiswa belum melaksanakan tugasnya secara optimal, demikian pula dosen belum melakukan perannya secara ideal.

Akhir-akhir ini di lingkungan perguruan tinggi muncul suatu tanggapan dari pimpinan Universitas, fakultas maupun Jurusan tentang, efektivitas bimbingan akademis mahasiswa dari para dosen. Banyak diantara para dosen selaku pembimbing akademi belum melakukan perannya secara ideal. Pada umumnya mereka hanya memberikan pengesahan Kartu Rencana Studi(KRS), mengevaluasi boleh dan tidaknya  mengikuti ujian atas dasar kehadiran kuliahnya hanya sekedar mengesahkan beberapa jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang boleh diambil dan mata kuliah mana yang boleh diambil atas dasar Indeks Prestasi (IP) yang dicapai sebelumnya, hanya sekedar mengesahkan beberapa jumlah SKS yang telah dicapai guna persyaratan akademis tertentu

Para ahli psikologi menyadari pentingnya bimbingan akademis dari para dosen dalam rangka peningkatan prestasi belajar mahasiswa agar kualitas pendidikan khususnya di Perguruan Tinggi dapat diperoleh secara optimal. Berdasarkan  kenyataan tersebut, maka pada makalah ini akan dibahas secara berturut-turut. Peran dan fungsi ideal dosen.

Dalam PP. 30 tahun 1990, tentang fungsi Perguruan Tinggi dengan itu pula  PP 60 tahun 1999 Bab II pasal 2 tujuan pendidikan tinggi. Berdasarkan fungsi dan tujuan yang termaktub dalam PP, maka seorang dosen sebagai salah satu anggota civitas akademika perguruan tinggi memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis. Peran dan fungsi tersebut adalah:

a)      Dosen adalah sebagai organisator, artinya dosen harus mampu mengorganisir kegiatan belajar mahasiswa sehingga mencapai keberhasilan belajar yang optimal.

b)      Dosen sebagai fasilitator artinya dosen harus mampu memberikan kebebasan bagi mahasiswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta berusaha membina kemandirian mahasiswa.

c)      Dosen sebagai innovator artinya pengetahuan yang disampaikan kepada mahasiswa harus selalu Up To Date, dalam arti mampu menyerap nilai-nilai budaya yang serba canggih, selalu mengkaji pengalaman, selalu mengkaji ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap demokratis, memberikan kemungkinan kepada mahasiswa untuk berkreasi dan dapat menemukan konsep dan prinsip sendiri serta membantu mahasiswa dalam mencari sumber dan kegiatan belajar. Dosen sebagai penemu artinya disamping tugas pokoknya mengajar, dosen juga harus melaksanakan penelitian baik yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar maupun yang sesuai dengan bidang keahliannya. Melalui penelitian ini diharapkan dosen mampu menghasilkan temuan-temuan baru yang konstruktif untuk selanjutnya dapat disumbangkan kepada penentu kebijakan melalui lembaganya masing-masing demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

d)      Dosen sebagai teladan artinya yang memberi contoh bukan hanya cara berpikir saja tetapi dalam hal bersikap, bertindak serta berprilaku.

e)      Dosen sebagai evaluator artinya: harus mengerti, memahami dan menguasai hakekat evaluasi. Evaluasi di sini dapat dipergunakan secara tidak terbatas, meliputi beberapa aspek kehidupan, tetapi juga dapat dipergunakan untuk

f)        melihat satu aspek saja, tetapi juga prestasinya. Perlu diperhatikan pula bahwa evaluasi terhadap hasil belajar itu menunjukkan pula bagaimana prestasi mengajar dosen.

g)      Dosen adalah sebagai pemandu artinya, menunjukkan jalan bagi perjalanan belajar para mahasiswanya.

h)      Dosen sebagai pencipta, artinya dosen harus mampu menciptakan situasi dan kondisi belajr yang kondusif, sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

i)        Dosen sebagai pengabdi dan pelayan bagi masyarakat, artinya dosen selain mengajar juga melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan ilmu pengatahuan serta pengalaman dan segala potensi yang dimiliki sebgai sumbangsihnya untuk kemajuan masyarakat.

j)        Dosen sebagai konsellor, artinya dosen harus mampu membantu mahasiswanya dalam memecahkan kesulitan baik dalam kegiatan belajar maupun yang lainnya. Maka dari itu seorang dosen harus memahami prinsip-prinsip bimbingan, memehami psikologi belajar, teori belajar, juga tentang ilmu kesehatan jiwa.

  1. BINGBINGAN KARIR DI PERGURUAN TINGGI

Herr, dkk. (1996:294) mengungkapkan hal-hal yang harus diperhatikan perguruan tinggi dalam rangka mengembangkan pelayanan bimbingan karir terhadap mahasiswa, yaitu :

1. Komitmen Institusi

Agar mahasiswa memiliki perencanaan yang baik terhadap karir dan kehidupannya di masa akan dating, dibutuhkan komitmen/keteguhan hati yang sungguh-sungguh dari lembaga pendidikan tinggi itu sendiri. Survey yang dilakukan Reardon, dkk(dalam Herr, dkk. 1996:295) ditemukan program bimbingan karir yang dibutuhkan mahasiswa diantaranya berkenaan dengan informasi pekerjaan, informasi pendidikan yang sedang ditempuh, informasi pengungkapan diri mahasiswa, pelatihan pengambilan keputusan, konseling kelompok berkenaan dengan karir, dsb. Hal ini tentunya membutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh komponen di perguruan tinggi, termasuk pimpinan, dosen dan karyawan, untuk mengembangkan karir mahasiswanya.

2. Pertimbangan Perencanaan

Berhubungan dengan kesegeraan bimbingan karir yang diberikan kepada mahasiswa, jangan sampai informasi/pelayanan yang diberikan tidak lagi dibutuhkan oleh mahasiswa dalam rangka pengembangan dirinya.

3. Pelayanan yang Komplek

Meliputi hal hal sebagai berikut :

a. Career Advising

Hal ini berkaitan dengan peran penasehat akademis dalam mencapai tujuan pendidikan yang sedang ditempuh serta hubungan antara kurikulum program studi yang ditempuh dengan kesempatan karir nantinya

b. Konseling Karir

Konseling karir merupakan bantuan yang diberikan oleh konselor dalam rangka membantu mahasiswa untuk evaluasi diri dan pengentasan permasalahannya yang berkenaan dengan karir.

c. Perencanaan Karir

Merupakan arahan yang akan dipakai mahasiswa dalam mengenal dunia kerja dan mengarah kepadanya.

Ke tiga komponen tersebut saling berhubungan dan akan bisa dilaksanan dengan pembentukan lima komponen dalam universitas yaitu :

a. Program universitas/perguruan tinggi dalam pendidikan karir secara terstruktur dan komprehensif

b. Badan/unit tertentu yang melayani untuk mahasiswa dan penasehat akademis dalam rangka informasi karir dan penempatan karir

c. Penasehat akademis dengan berbagai pengetahuannya.

d. Pusat adminsitrasi pelayanan akademik yang secara sungguh-sungguh memiliki waktu dan kemauan yang tinggi untuk membantu mahasiswa

e. Badan/unit konseling dan penasehat akademik.

Tujuan bimbingan karier adalah untuk membantu mahasiswa memahami perencanaan karier dan proses penempatan setelah mereka menamatkan perguruan tinggi. untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya:

1. Bantuan dalam pemilihan bidang pelayanan utama

2. Bantuan dalam penilaian diri dan analisis diri

3. Bantuan dalam memahami dunia karier

4. Bantuan dalam pengambilan keputusan

5. Bantuan dalam memasuki dunia kerja

  1. PROGRAM BIMBINGAN KARIR DI PERGURUAN TINGGI

Herr, dkk (1996, 300) mengemukakan bahwa program konseling kelompok, konseling individual dan konseling teman sebaya merupakan pendekatan yang banyak dilakukan dalam pemberian pelayanan bimbingan dan konseling karier. Prosedur dan kegiatan yang dapat digunakan dalam menyusun pedoman karier dan konseling mahasiswa perguruan tinggi ialah:

1. Melakukan seminar karier dengan melibatkan lembaga penerima tenaga kerja (konsumen) dengan mahasiswa dan PT.

2. Menyusun program intensif yang dapat memberi pengalaman dalam beberapa disiplin ilmu.

3. Melakukan aplikasi instrumen, sebagai balikan bagi mahasiswa dalam upaya pemahaman dirinya.

4. Menugaskan mahasiswa melakukan interview kapada karyawan suatu pekerjaan.

5. Kunjungan perpustakaan, bursa kerja dan pertemuan-pertemuan karier yang banyak dilakukan pengusaha.

6. Konselor menginformasikan berbagai jenis dan persyaratan berbagai macam pekerjaan yang mungkin dapat dilamar mahasiswa setelah tamat kuliah.

Konselor bekerja sama dengan program studi perlu memberikan dan menyediakan layanan informasi karir, informasi ini dilakukan agar mahasiswa mampu mengenal secara jelas arah pembinaan yang akan dijalani mahasiswa dan sekaligus memandang ke depan tentang apa yang hendak dicapai dan diterapkan setelah lulus nantinya. Walters dan Saddlemire (dalam Herr, 1996:292) menyatakan bahwa 85% dari mahasiswa Universitas Negeri Green Bowling membutuhkan informasi karier, berkenaan dengan :

a Pekerjaan yang sesuai dengan dengan jurusan yang diambilnya

b Tempat dan personil yang dapat membantu perencanaan karier

c Pengalaman langsung dan kunjungan kerja serta kerja separoh waktu tentang pekerjaan yang diyakininya.

d Pemahaman diri (potensi diri) untuk memantapkan pilihan pekerjaan yang sesuai dengan pensifatan yang dimilikinya.

e Pengetahuan dan keterampilan tentang pasar kerja.

f Membantu merencanakan perkuliahan yang fleksibilitas dalam memilih beberapa pekerjaan yang berbeda

Selanjutnya, informasi karir perlu dilengkapi dengan informasi lowongan karir yang memperlihatkan “keberadaan” karir tersebut di lapangan, khususnya tentangjumlah posisi yang ada, di mana lowongan itu ada, penerimaan masyarakat terhadap karir tersebut, dan hal-hal lain yang perlu dikembangkan berkenaan dengan karir yang dimaksudkan itu (Prayitno, 2007:7). Lebih jau, informasi setiap karir dapat diuraikan lebih rinci lagi dengan mengembangkan berbagai tuntutan ataupun kondisi yang dikehendaki dari orang-orang atau tenaga yang memiliki kehendak/minat memasuki pekerjaan/karir yang dimaksudkan itu, seperti persyaratan ijazah, umur dan jenis kelamin, penguasaan keterampilan dan pengalaman, riwayat diri dan pekerjaan, kesehatan, kemampuan khusus dan lulus seleksi. Dengan informasi karir yang diberikan tersebut, dapat memberikan arahan yang nyata kepada mahasiswa tentang pekerjaan-pekerjaan apa saja yang akan diampu.

Selain informasi karir yang dimaksud, juga bisa diberikan informasi kepada mahasiswa secara klasikal bagaimana mengembangkan dirinya secara optimal Contoh : Layanan informasi tentang Meniti Karir, dengan bagian-bagian penjelasan berkenaan dengan kenali diri, citra diri, yakin dan percaya terhadap diri, mengatur diri, pengendalian diri, berpikir menang-menang, bersikap positif dan proaktif, motivasi diri, sikapi pekerjaan dengan semangat yang tinggi, tingkatkan diri secara berkelanjutan, dahulukan apa yang utama dan penting, selesaikan apa yang telah anda mulai, mengelola krisis secara kreatif, dan berdoa dan berserah diri kepada tuhan yang maha kuasa (A. Muri Yusuf, 2002:88).

Bagi mahasiswa di perguruan tinggi, pilihan dan penempatan mereka pada program/jurusan yang sesuai dengan “siapa dia” sangat penting, karena pilihan program studi yang tidak tepat akan mengakibatkan persiapan arah karir mereka tidak berada pada jalur yang benar (A.Muri Yusuf, 2002:60), oleh karena itu Konselor melalui lembaga yang menaunginya perlu memperhatikan hal ini.

Mayoritas masalah mahasiswa ialah kemungkinan-kemungkinan bekerja sambil kuliah, ekonomi orang tua lemah, kesulitan biaya hidup mempersiapkan diri mengikuti persaingan untuk masuk kerja. Selain itu, perguruan tinggi perlu membentuk pusat tenaga kerja, yang berusaha untuk memfasilitasi mahasiswa terhadap kebutuhan tenaga kerja di lapangan (Herr, 1996:307).

BAB III

PENUTUP

A KESIMPULAN

Sebenarnya belajar diperguruan tinggi bukan suatu pekerjaan yang berat, karena tidak terlalu padat seperti belajar di SMA. diperguruan tinggi, mahasiswa hanya mengikuti kuliah pada hari-hari dan jam-jam tertentu saja. kondisi tersebut sebenarnya menguntungkan, karena mahasiswa dapat memanfaatkan waktu yang tersedia dengan berbagai macam kegiatan, baik akademik maupun non akademik. namun dalam kenyatanya ada saja problematik yang sering ditemui para mahasiswa, seperti kesulitan mengikuti perkuliahan, kejenuhan dan kemalasan,kurang motivasi, ketidakmampuan mengelola waktu, keuangan, pergaulan, indekost, masalah cinta dll.

Untuk mengatasi permasalahan mahasiswa tersebut diatas, maka seorang mahasiswa dituntut minimal untuk mengatasi maslanya sendiri, yaitu melalui pembelajaran yang efektif dan efesien, dismping itu juga kesadaran pribadi juga sangat diperlukan selain kedisiplinan yang tinggi. Disamping itu juga peran dosen sangat diperlukan dalam pengembangan mahasiswa diperguruan tinggi.

Bimbingan dan konseling karier di perguruan tinggi luar negeri dan dalam negeri, ternyata tidak ada perbedaan yang berarti, baik jenis layanan maupun isi layanan. Baberapa kesimpulan yang dapat dirumuskan ialah:

a. Pemahaman potensi diri (pensifatan), sebaiknya di ketahui sebelum memilih program studi di perguruan tinggi dan memilih pekerjaan yang sesuai setelah tamat di PT.

b. Informasi tentang karier yang sesuai dengan program studi mahasiswa sangat dibutuhkan, seperti peluang-peluang yang ada, persyaratan melamar pekerjaan, tugas pokok dan fungsi pekerjaan, prospek pengambangan dan penggajian

c. Peluang kerja separoh waktu (bekerja sambil belajar sangat diminati mahasiswa, karena mereka umumnya datang dari keluarga yang kurang mampu).

d. Pelayanan bimbingan dan konseling karier di perguruan tinggi sangat di butuhkan mahasiswa. Kerja sama UPBK dan Unit Pelayanan Jass serta organisasi alumni akan memperbesar dan memperluas informasi kerja berguna bagi mahasiswa.

Untuk mengakomodir dan memberikan pelayanan bimbingan karir yang baik bagi mahasiswa sehingga mampu berkembang dengan optimal, masing-masing perguruan tinggi perlu membentuk lembaga khusus yang mewadahi untuk itu. Prayitno (2007:135) mengungkapkan perguruan tinggi perlu membentuk Unit Pelayanan Konseling (UPK) yang memberikan pelayanan konseling kepada mahasiswa dan klien-kliennya, baik dari dalam maupun dari luar kampus. UPK ini akan mengelola pelayanan kepada mahasiswa dalam arti luas yaitu, pelayanan pra perguruan tinggi, pelayanan era perguruan tinggi dan pelayanan pasca perguruan tinggi. Pelayanan pra perguruan tinggi diperlukan untuk menjangkau siswa-siswa SLTA yang akan memasuki PT sebagai informasi awal tentang program studi yang akan diikuti sehingga mampu merencanakan karir yang lebih baik dan sesuai dengan potensinya, pelayanan era perguruan tinggi diberikan kepada mahasiswa yang sedang menjalani perkuliahan di kampus, untuk lebih memantapkan pengembangan keilmuannya, sedangkan pelayanan pasca perguruan tinggi diberikan terhadap alumni-alumni sebagai upaya untuk memasuki dunia kerja.

B SARAN

Saran penulis adalah agar mahasiswa sebisa mungkin mengatasi masalahnya sendiri, dan jika tidak bisa mengatasi masalahnya, maka disarankan untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing juga dosen wali, sehingga apa yang menjadi problema dalam diri mahasiswa tersebut dapat terselesaikan. Sehingga apa yang menjadi tujuan dari pendidikan indonesia pada umumnya dan tujuan pendidikan perguruan tinggi pada khususnya dapat terwujud.

Demikian makalah ini disusun, semoga ada manfaatnya dalam pengembangan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling karier di Perguruan Tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

A, Hallen. 2002. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Ciputat Pers

A Muri Yusuf, (2002). Kiat Sukses Dalam Karir. Ghalia Indonesia

A.Muri Yusuf, (2006). Konseling Karier dalam Satuan Pendidikan dan Praktik Pribadi, (Makalah). Padang, Universitas Negeri Padang.

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti

Sudarman, Paryati. 2004. Belajar Efektif di Perguruan Tinggi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

PERCAYA DIRI DAN TIDAK PUTUS ASA

A. PENDAHULUAN

Optimisme adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri. Seorang yang bermental sebagai seorang pemenang, ia akan memiliki rasa percaya diri, ia bersungguh-sungguh dan yakin akan usahanya tersebut. Inilah sisi lain dari makna tawakal. Setiap kali ia diterpa oleh badai tantangan, segeralah ia memperbaiki dan dan membenahi diri, melakukan evaluasi lahir bathin seraya  melemparkan pertanyaan yang membedah hati nuraninya. Dalam segala hal dia tidak pernah mencari kambing hitam dan tidak ada kamus “pesimis” karena tidak akan menolong dirinya kecuali menambah beban untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya.

Dari uraian  tersebut diatas penulis merumuskan masalah yang akan dibahas pada makalah ini diantaranya:

–        Siapakah orang-orang yang percaya diri dan tidak putus asa tersebut, dan kepada siapakah pesan percaya diri dan tidak putus asa tersebut disampaikan?

–        Kenapa kita harus percaya diri dan tidak putus asa?

–        Termasuk kedalam apakah orang – orang yang tidak percaya diri dan tidak putus asa tersebut?

–        Balasan apa yang diterima bagi  orang-orang yang percaya diri dan tidak putus asa, serta serta balasan apa pula yang diterima bagi  orang-orang yang  tidak percaya diri dan putus asa?

B. SENTRAL AYAT

Artinya :

  1. Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”(Q.S Yusuf: 87)

Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya(pangkal ayat 87). dengan perintah Beliau seperti ini kepada anaknya bertambah nampaklah kepastian dalam hati beliau bahwa mereka masih ada.dan beliau tegaskan lagi “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”[1]

Siapakah orang-orang yang percaya diri dan tidak putus asa itu, dan kepada siapakah yang berhak memberi perintah agar percaya diri dan tidak putus asa tersebut? Perlu kita ketahui bersama bahwa sesungguhnya agama islam memerintahkan kepada kita semua agar kita percaya diri dan tidak putus asa dalam mencari rahmat dan hidayah Allah SWT. Kita sebagai manusia wajib ikhtiar kepada Allah SWT karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Sebagaimana pesan Nabi Yakub As kepada anak-anaknya dalam mencari saudaranya Yusuf serta Bunyamin. Pada ayat tersebut diatas pesan nabi Yakub As bukan saja memerintahkan kepada anak-anaknya untuk terus berharap dan perrcaya diri serta tidak putus asa dalam mencari saudaranya, tetapi ada  pesan kepada kita semua agar percaya diri dan tidak putus asa dalam mencari rahmat Allah SWT.

Kata “Rauh dari ayat tersebut lebih dalam makna dan takaranya serta lebih banyak kandunganya, didalamnya mengandung naungan tempat beristirahat dari musibah yang mencekik dengan apa yang menghibur jiwa[2]. Maka dari itu orang-orang yang beriman selalu berhubugan dengan Allah, raga dan bathin mereka selalu disirami dengan ruh Allah yang menghidupkan dan menyemangatinya. Mereka itu tidak pernah putus asa dari rahmat Allah, walaupun mereka diliputi oleh segala musibah yang menghampirinya, karena mereka dalam ketenangan kepercayaan terhadap Allah SWT.

Dari ayat diatas juga penulis berpendapat  bahwa Yakub sebagai orang tua yang tentunya banyak memiliki pengalaman dan kesabaran juga ilmu yang tinggi.  Penulis berpendapat bahwa pesan percaya diri dan tidak putus asa bukan saja ditunjukan bagi orang tua kepada anaknya, orang yang lebih tua kepada yang lebih muda tetapi juga pesan yang disampaikan dari orang yang berilmu baik tua ataupun muda.

Kenapa kita harus percaya diri dan tidak putus asa? Tidak banyak orang yang sadar bahwa kehidupan seseorang sangat ditentukan oleh cara berfikirnya. Apabila ia berfikir atau mempunyai gambaran sebagai orang yang penakut dan pesimis, maka gambaran tersebut akan mempengaruhi seluruh potensi dirinya yang ada sebagai seorang yang penakut. Ketakutan dan keputus asaan seseorang dalam mencari rahmat Allah adalah karena ketidak mampuan dan  ketidak yakinan orang tersebut dalam menghadapi masalah tersebut.

Firman Allah SWT dalam surat Al- Hijr ayat 52:

Artinya

52.  Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: “Salaam”. Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu”.

Kata “Wajilun” terambil dari kata “Wajal” yaitu kegoncangan hati akibat menduga akan terjadi sesuatu yang buruk[3]. Pantaslah Allah SWT sendiri berkata “aku menurut prasangkamu[4]. Apabila kita memiliki prasangka buruk kepada Allah SWT, berarti kita menghinakan diri sendiri dan bersiap untuk menerima kebrukan tersebut.

Ajaran islam adalah ajaran yang positif, menghindari segala bentuk negative sehingga harus tertanam pada jiwa kita bahwa alas an apapun yang menggiring kita pada sikap pesimistis adalah bertentangan dengan ajaran islam sendiri. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Hijr ayat 53:

artinya :

53.  Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.

Berfikir positif akan memberikan dorongan sikap dan tingkah lakuyang positif pula. Jiwa yang positif tampak bergairah penuh antusiasme dan keberanian yang sangat mendalam, dalam hidupnya tidak ada kata putus asa dan menyerah, karena bagi Allah semuanya mudah, siapa saja yang Allah kehendaki pasti dia akan mendapatkan rahmatNya, oleh karena itu tidak pantas bagi orang yang beriktiar dalam mencari rahmat Allah mempertanyakan apakah usahanya tersebut akan berhasil atau tidak, karena hal tersebut mengandung keputusasaan. Firman Allah dalam surat Al-Hijr ayat 54:

Artinya : Berkata Ibrahim: “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku Telah lanjut, Maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?”

Dan dalam surat Al-Hijr ayat 55, Allah berfirman:

Artinya:  Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”.

Pada ayat 55 tersebut diatas memberikan dorongan kepada kita untuk selalu percaya diri dan tidak merasa putus asa. Bagaimana mungkin kita pesimis dan penakut, apabila sejak awal penciptaan manusia sudah disiapkan untuk menjadi pemenang dan petarung yang hebat. Bukankah dari berjuta-juta sperma yang memancar hanya satu yang berhasil untuk memperebutkan indung telur, dan satu sperma yang berhasil membuahinya itu tidak lain adalah kita! Yakinkan pada diri bahwa kita terlahir untuk menjadi pemenang.

Termasuk kedalam golongan apakah orang-orang yang tidak percaya diri dan putus asa itu? Sikap percaya diri dan tidak putus asa yang dilandaskan pada iman, menyebabkan segala bentuk tekanan tidak dijadikan sebagai kendala, tetapi sebuah tantangan yang akan membentuk kepribadian dirinya menjadi lebih cemerlang. Sebaliknya orang yang memiliki sikap tidak percaya diri, putus asa, dan pesimis adalah termasuk orang-orang yang putus harapan, fasik dan sesat, serta kufur. Firman Allah SWT:

Artinya:  Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”.(Q.S Al-Hijr 56)

Juga firman Allah dalam surat Yusuf ayat 87:

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Dan firman Allah dalam surat Al-Imran ayat 82:

Artinya:  Barang siapa yang berpaling sesudah itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.

Balasan apa yang diterima bagi  orang-orang yang percaya diri dan tidak putus asa, serta serta balasan apa pula yang diterima bagi  orang-orang yang  tidak percaya diri dan putus asa? Ada sebuah peribahasa “Berilah dan engkau akan menerima” [5]. Pernyataan tersebut sederhana namun mengandung makna yang sangat mendalam. Apa yang kita berikan itu pada dasarnya adalah apa yang akan kita terima di masa yang akan datang. Kita begini dan begitu adalah hasil dari pilihan kita sendiri.

Firman Allah SWT dalam surat Az-Zazalah ayat 7-8:

Artinya:

7.  Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

8.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Semua perbuatan yang kita lakukan didunia akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Sekecil apapun perbuatan kita didunia akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak. Kata Az-Zarrah adalah semut yang terkecil (maksudnya atom)[6] . Begitupun bagi orang yang tawakal, percaya diri dan tidak putus asa dalam mencari ridho Allah, mereka kelak akan menemui tuhanya dan akan mendapatkan balasan yang setimpal yaitu surga. Dan bagi orang –orang yang melanggar perintah Allah akan dibalas dengan siksaan yang pedih

Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 223:

dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

Apa yang dianugrahkan kepada kita adalah sesuatu yang jelas mendatangkan manfaat bagi kehidupan kita sejak awalnya[7]. Ketahuilah bahwa kelak kita akan menemui tuhanya dan akan membalas perbuatan yang kita lakukan.

C. NILAI – NILAI TARBAWI

Ada beberapa nilai tarbawi yang dapat diambil dari uraian tersebut diatas, yang pertama sebagai pendidik mengajar dengan contoh adalah cara efektif agar peserta didik mengembangkan sikap dan keterampilan social yang diperlukan untuk mengembangkan sikap percaya diri dan tidak putus asa, yang kedua membengun hubungan yang akrab dari dalam rumah hingga luar rumah akan membangun rasa percaya diri dan pengenalan diri. Yang ketiga pendidik hendaknya memberikan dukungan kepada peserta didik, karena dukungan merupakan factor utama dalam membantu peserta didik dalam mengatasi keputus asaan. Yang ke empat yaitu bahwa pesan untuk percaya diri dan tidak putus asa bukan saja dari yang tua kepada yang muda, melainkan dari yang berilmu baik yang tua maupun yang muda, dan yang kelima kepercayaan diri yang sempurna adalah kepercayaan diri yang terbentuk dari lahir dan bathin yang terus berkesinambungan, sebagai pendidik tentunya kita dapat meletakan dasar – dasar percaya diri kepada peserta didik untuk mencapai dasar kepercayaan diri dimasa yang akan dating.

Begitu juga pada dunia pendidikan diharapkan agar semua komponen pendidikan untuk percaya diri dan tidak putus asa, sehingga tercapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Semua komponen pendidikan harus ikhtiar dan tawakal kepada Allah SWT, karena orang yang tawakal tidak pernah mengalami frustasi dalam mengarungi kehidupan ini.

D. KESIMPULAN

Sesungguhnya agama islam memerintahkan agar berserah diri dan ikhlas kepada Allah SWT. Kita sebagai manusia agar percaya diri dan tidak putus asa untuk terus mencari rahmat Allah. Banyak manusia yang cepat putus asa bahkan melampiaskanya dengan bunuh diri, hal itu disebabkan karena pemikiranya yang dangkal dan jauh dari nilai – nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Kita sebagai manusia wajib ikhtiar, karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya.

E. DAFTAR PUSTAKA

Al Maraghi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al-Maraghi 2. Semarang: CV Toha Mustafa

Hamka. 2003. Tafsir Al-Azhar jilid 5. Singapura: Kertajaya Printing Industries

Sihab, M Quraish. 2007. Tafsir Al-Misbah. Jakarta:Lentera Hati


[1] Hamka,2003,tafsir Al-azhar jilid 5,Kertajaya pi:singapura. hal 1039

[2] Sayid Qhutub,2003,Tafsir Fizhilail Qur’an,Genma Insani Press: Jakarta. hal 390.

[3] M. Quraish Sihab,2007,Tafsir Al-Misbah,Lentera Hati:Jakarta. hal 142.

[4] Toto Tasmara,2001,Kecerdasan Ruhaniah,Gema Insani:Jakarta. hal 88.

[5]Toto Tasmara ,2001,Kecerdasan Ruhaniah,Gema Insani:Jakarta.

[6] Mustafa Al-Maraghi,1993,Tafsir Al-Maraghi 30,CV Toha Mustafa:Semarang. hal:381

[7] Mustafa Al-Maraghi,1993,Tafsir Al-Maraghi 2,CV Toha Mustafa:Semarang. hal:274

Apa sih Kurikulum itu..?

Maret 22, 2009

PENGERTIAN KURIKULUM

Menurut Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menurut Prof Dr. Nasution S:
Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.” ( Nasution, kurikulum dan Pengajaran, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hal.5)
Menurut Grayson (1978):
Kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (outcomes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran.
Menurut M.Skilbeck(1984):
The learning experiences of students, in so far as they are expressed or anticipated in goals and objectivies, plans and designs for learning and implementation of these plans and design in school environments.
(Pengalaman-pengalaman murid yang diekspresikan dan diantisipasikan dalam cita-cita dan tujuan-tujuan, rencana-rencana dan desain-desain untuk belajar dan implementasi dari rencana-rencana dan desain-desain tersebut di lingkungan sekolah).

Menurut J.Wiles & J.Bondi (1989):
The curriculum is a goal or a set of values, which are activated through a development for students. The degree to which those experiences are a true representation of the envisioned goal or goals is a direct function of the effectiveness of the curriculum development efforts.
(Kurikulum ialah seperangkat nilai-nilai, yang digerakkan melalui suatu pengembangan proses kulminasi dalam pengalaman-pengalaman di kelas untuk murid-murid. Tingkat terhadap pengalaman tersebut merupakan suatu representasi yang benar terhadap cita-cita yang diimpikan ialah suatu fungsi langsung daripada efektivitas dari usaha-usaha pengembangan kurikulum).

Kesimpulan:
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah suatu rencana dan seperangkat nilai-nilai untuk kelancaran proses belajar mengajar dibawah bimbingan lembaga pendidikan dan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Referensi:
BSNP, 2006, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Badan Standar Nasional Pendidikan
Missunita. 2008. Apa itu Kurikulum. http://missunita.wordpress.com. 15 maret 2009
Nasution. 2006. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Strategi Pembelajaran Sains di Sekolah Menengah Pertama (SMP)

STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Diajukan untuk memenuhi tugas mandiri

Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan

Dosen: Drs. Endang Abdurrahman, MPd

Disusun Oleh:

TARJAKI

07460915

BIOLOGI-C

DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) CIREBON

2008




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat sehingga makalah ini dapat diselesaikan tanpa adanya hambatan dan gangguan. Pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan berupa moril maupun berupa materil. Oleh karena sepantasnyalah penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pembuatan makalah ini.

Makalah yang berjudul “STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS DI SMP” selain bertujuan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Pendidikan juga untuk bekal bagi calon guru sains dalam pembelajaran sains. Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi diri pribadi dan umumnya bagi para pembaca.

Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan makalah ini.

Cirebon, Juni 2008

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.1 Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.2 Rumusan Masalah dan Pemecahanya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.3 Tujuan dan Manfaat Pembuatan Makalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.4 Metodologi Pembuatan Makalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.5 Waktu dan Tempat Pembuatan Makalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB II STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS

DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) . . . . . . . . . . . . .

2.1 Pengertian Sains . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

2.2 Jenis-jenis Pelajaran Sains di SMP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

2.3 Jenis-jenis Strategi Pembelajaran Sains di SMP . . . . . . . . . . . . . . . .

2.4 Metode Pembelajaran Sains di SMP

serta Keunggulan dan Kelemahanya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

2.5 Kendala yang Dihadapi dalam Pembelajaran Sains . . . . . . . . . . . . . .

BAB III FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG PEMBELAJARAN SAINS

DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) . . . . . . . . . . . . .

3.1 Faktor Guru . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

3.2 Faktor Motivasi Siswa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

3.3 Faktor Sarana Penunjang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB IV TUJUAN AKHIR SERTA EVALUASI PEMBELAJARAN

SAINS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA . . . . . . . . . . . .

4.1 Tujuan Akhir Pembelajaran Sains di SMP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

4.2 Evaluasi Pembelajaran Sains di SMP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB V PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

5.1 Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

5.2 Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Di era globalisasi dewasa ini, kehidupan masyarakat banyak dipengaruhi oleh perkembangan sains dan teknologi. Banyak permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari memerlukan informasi ilmiah dalam pemecahanya. Oleh karena itu, literasi sains menjadi kebutuhan bagi setiap individu agar memiliki peluang yang lebih besar untuk menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan.Sains dikembangkan dengan tujuan untuk memahami gejala alam. Rasa keingintahuan mendorong ilmuan utuk melakukan proses penyelidikan ilmiah, atau doing science (Hodson, 1996) , hingga ditemukan suatu jawaban yang kemudian menjadi produk sains, seperti konsep, hukum, prinsip dan teori. Dalam istilah psikologi pengetahuan tentang proses ilmiah itu, disebut pengetahuan prosedural, dan pengetahuan yang berkaitan dengan produk ilmiah disebut pengetahuan deklaratif.

Kecepatan perkembangan sains dan teknologi pada akhir-akhir ini menuntut perlunya pembaharuan dibidang pendidikan dan pengajaran sains baik di negara-negara maju maupun berkembang. Hal ini mengingat bahwa sains dan teknologi berperan dalam meningkatkan kesejahteraan kita baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat (Eddy M. Hidayat, 1988:1). Pembaharuan yang dilakukan merupakan upaya untuk mewujudkan tantangan kebutuhan masyarakat akan pendidikan dan pengajaran sains, yang memberikan bekal kepada anak didik sehingga mereka kelak dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat yang sudah makin terikat pada kemajuan-kemajuan sains serta hasil-hasilnya di bidang teknologi.

Kita mengetahui bahwa sikap anak didik terhadap sains di sekolah-sekolah di negara kita banyak ditentukan oleh bagaimana guru memberikan pelajaran sains tersebut. Jika guru mengajarkan sains secara murni dalam arti seolah-olah itu tidak ada kaitanya dengan teknologi dan masyarakat maka lambat laun akan tertanam pada diri anak itu sikap dan anggapan bahwa sains, teknologi dan masyarakat seolah-olah berjalan sendiri-sendiri. Sedangkan masalah yang akan dihadapi kelak di masyarakat ternyata sains dan teknologi saling berkaitan.

Dalam pengajaran sains seringkali guru melakukan pengajaran yang modelnya satu arah. Guru lebih sering memberikan informasi tentang pengetahuan sains. Pengajaran dengan model seperti itu menyebabkan siswa tidak termotivasi untuk belajar sains. Belajar dengan hanya menerima informasi dari guru kurang bermakna bagi siswa. Banyak siswa yang menganggap pelajaran sains sebagai pelajaran yang menakutkan, mereka mengingat-ingat kembali penjelasan guru dan menuliskanya lagi pada waktu ujian.

Siswa yang mempelajari sains melalui pengalaman langsung akan lebih menghayati pelajaran sains itu sendiri. Umpamanya dalam pelajaran sains biologi, melalui pengamatan tentang bagaimana mahluk dapat melakukan perkembangbiakan, siswa menemukan fakta bahwa mahluk hidup dapat berkembangbiak melalui beberapa cara. Bila fakta mengenai hal tersebut dibiarkan begitu saja, maka pengetahuan siswa tentang perkembangbiakan kurang bermakna. Bila siswa diajak mendiskusikan peran perkembangbiakan dalam kelangsungan jenis selain beradaptasi dan seleksi alam, maka pengetahuan siswa tentang perkembangbiakan secara umum membekalinya tentang bagaimana cara mempertahankan kelestarian jenis.

Kemajuan yang pesat dari sains mengakibatkan informasi yang dapat dikumpulkan dalam bentuk fakta-fakta ilmiah menjadi berlipat ganda jumlahnya. Masalahnya menjadi semakin kompleks karena pertambahan informasi ini di ikuti pula oleh informasi-informasi yang ada menjadi ditinggalkan karena sudah diganti oleh informasi yang lain yang lebih relevan dan valid. Hal ini mengakibatkan apa yang di pelajari sekarang menjadi tidak cocok lagi kalau menjadi bahan ajar di masa sepuluh tahun yang akan datang.

1.2 Rumusan Masalah dan Pemecahanya

Upaya pembaharuan pendidikan dan pengajaran sains yang dilakukan tidak semulus sebagaimana yang direncanakan , karena permasalahan muncul dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah khususnya pelajaran sains. Banyak siswa yang menganggap bahwa pelajaran sains adalah pelajaran yang menakutkan.

Dari uraian diatas permasalahan tersebut dirinci menjadi menjadi beberapa pokok diantaranya sebagai berikut:

1. Strategi apa yang di sampaikan oleh guru sains agar pelajaran sains mudah diterima oleh siswa?

2. Bagaimana cara guru sains memotivasi siswa agar senang terhadap pelajaran sains?

3. Bagaimanakah mengevaluasi keberhasilan pelajaran sains?

Pembaharuan pengajaran sains di sekolah dapat ditempuh dengan mengacu pada prioritas pengajaran sains. Kesadaran anak didik dapat dibina dan ditumbuhkembangkan melalui pendidikan sains dengan berbagai pendekatan, sehingga sekolah tidak sekedar menjadikan outputnya hanya dapat membaca saja dan memiliki pengetahuan yang sebenarnya kurang berfungsi dalam mewujudkan kemandirianya, melainkan yang sangat diharapkan adalah lulusan sekolah yang melek sains, melek teknologi dan melek pikir.

1.3 Tujuan dan Manfaat Pembuatan Makalah

Makalah ini dijabarkan menjadi beberapa tujuan khusus, diantaranya sebagai berikut:

1. Membekali calon guru dan guru sains dalam melaksanakan strategi pembelajaran sains di SMP

2. Membekali calon guru dan guru untuk memotivasi siswa dalam pelajaran sains khususnya di tingkat SMP

3. Membekali calon guru dan guru agar mengarahkah siswa SMP dalam pelajaran sains untuk dipergunakan seterusnya.

Pembuatan makalah ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai masukan untuk pengembangan pelajaran sains di SMP, sehingga dapat meningkatkan kemampuan calon guru dan guru sains di SMP.

1.4 Metodologi Pembuatan Makalah

Metode pembuatan makalah ini dilakukan dengan menghimpun buku bacaan dari berbagai sumber yang berkaitan dengan pembelajaran sains itu sendri, baik dari koleksi buku pribadi maupun meminjam dari perpustakaan STAIN Cirebon juga dari perpustakaan umum kota Cirebon.

1.5 Waktu dan Tempat Pembuatan Makalah

Pembuatan makalah ini berlangsung selama beberapa minggu dan dilakukan di beberapa tempat, baik dirumah sendiri yaitu di wilayah Indramayu, maupun di kosan rekan-rekan yang ada di sekitar kampus STAIN Cirebon.




BAB II

PEMBAHASAN

STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

2.1 Pengertian Sains

Pengertian sains atau IPA ternyata mengalami perkembangan dari jaman ke jaman. Pada mulanya sains merupakan pengetahuan biasa, lambat laun pengertianya berubah menjadi pengetahuan yang rasional lepas dari takhayul. Pada mulanya sesuatu dikatakan ilmiah asalkan rasional dan sesuai dengan objeknya. Namun kemudian nampaknya persyaratanya bertambah yaitu haruslah bersifat pragmatis.

Sebagai awalan kami kutipkan pendapat dari Nash, L.K. dalam bukunya The Nature of Natural Science. Ia mengatakan bahwa: “Science is a way of looking at the world” Jadi disini sains atau IPA itu dipandang sebagai suatu cara atau metode untuk dapat mengamati ssuatu, dalam hal ini adalah dunia. Namun kata Nash selanjutnya, cara memandang sains terhadap sesuatu itu berbedadengan cara memandang biasa atau cara memandang seorang filosof misalnya. Cara memandang sains bersifat analitis, Ia melihat sesuatu secara lengkap dan cermat serta dihubungkanya dengan objek yang lain sehingga keseluruhanya membentuk suatu perspektif baru tentang objek yang diamati. lebih lanjut ia menandaskan metode berpikir atau pola berpikir yang tidak sama dengan pola berpikir sehari-hari, berfikirnya harus menjalani refinement sehingga cermat dan lengkap.

Ada satu buku lagi yang juga menjawab pertanyaan “what is science” yaitu yang berjudul UNESCO Handbook for Science Teachers yang diterbitkan oleh UNESCO Paris. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa “Science is what scientists do”. Kalimat tersebut adalah bahwa yang dikerjakan scientis itu ada dua hal, yang pertama adalah mengumpulkan pengetahuan ilmiah sehingga sehingga menjadi Body of scientific knowledge dan yang kedua adalah suatu proses untuk mendapatkan scientific knowledge itu. R. Hare juga menjelaskan tentang sains ia berpendapat bahwa sains adalah suatu kumpulan teori-teori yang telah diuji kebenaranya, manjelaskan tentang pola-pola dan keteraturan dari gejala yang telah diamati secara seksama.

2.2 Jenis-Jenis Pelajaran Sains di Sekolah Menengah Pertama (SMP)

1. Pelajaran Sains Matematika

Dalam mempelajari matematika, tentunya wajar kalau mungkin diantara kita ada yang bertanya ”apa itu matematika ?” . untuk dapat memberikan jawaban yang pasti tentang arti matematika sangatlah sulit. Definisi matematika makin lama makin sukar untuk dibuat secara tepat dan singkat. James dan James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan dengan jumlah yang banyak. Matematika timbul karena pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Matematika terdiri dari empat wawasan yang luas ialah aritmetika, aljabar, geometri, dan analisis.

Kline (1973), mengatakan bahwa matematika itu bukan pengetahuan yang menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi keberadaanya itu untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam. Kemudian Johnson dan Rising (1972) mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logis; matematika itu adalah bahasa, bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jalas dan akurat.

2. Pelajaran Sains Fisika

Reif (1995) menyatakan bahwa tujuan utama pembelajaran fisika adalah membantu siswa memperoleh pengetahuan dasar secukupnya yang dapat digunakan secara fleksibel. Alasanya tujauan pembelajaran sains bukan untuk mengumpulkan fakta tetapi untuk memperoleh kemampuan mengunakan sejumlah kecil pengetahuan dasar yang berguna dalam memprediksi dan menjelaskan atau memecahkan berbagai masalah.

Siswa hidup dalam dunia yang kompleks dan terus berubah, mereka akan memperolae keuntungan yang sedikit dari pengetahuan yang dihafalkan atau kurang dipahami. Pengetahuan fisika yang diperolehnya akan berguna jika mereka dapat mengolahnya secara fleksibel dengan masalah yang bihadapinya. Dengan demikian pembelajaran fisika yang terlalu berambisi dengan menganggap seolah olah semua siswa SMP akan melanjutkan ke SMA, dan semua siswa SMA akan melanjutkan ke perguruan tanggi, apalagi menganggap mereka yang melanjukan ke perguruan tinggi akan mengambil jurusan fisika, menjadi kurang relevan.

3. Pelajaran Sains Biologi

Kata Biologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Bios dan Logos. Bios berarti Hidup, sedangkan Logos beratri Ilmu. Jadi secara sederhana yang dimaksud dengan biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala kehidupan.

2.3 Jenis- Jenis Strategi Pembelajaran Sains di SMP

Strategi dibedakan dari metode. Strategi lebih menekankan pada pendekatan dalam perencanaanya, sedangkan metode lebih menekankan pada tehnik pelaksanaanya. Satu strategi atau pendekatan mungkin mencakup beberapa metode pada pelaksanaanya, begitu pula suatu metode dapat digunakan untuk merealisasikan beberapa pendekatan. Menurut modul Dasar-dasar Pendidikan MIPA yang diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1994 jenis-jenis pendekatan atau strategi pembelajaran sains yang digunakan di sekolah menengah pertama (SMP) diantaranya:

  1. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Pembelajaran sains berbasis CBSA bertitik tolak dari anggapan bahwa siswa memiliki potensi untuk berpikir sendiri dan untuk itu siswa harus diberi kesempatan. Dalam pembelajaran sains berbasis CBSA ini, siswa lebih banyak aktif daripada guru, namun tidak berati guru tidak ikut proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru berperan sebagai perangsang yang selanjutnya siswa itu sendiri yang harus berfikir memecahkan masalah. Dalam pembelajaran sains berbasis CBSA di SMP pula teknis pelaksanaanya dilakukan dengan berbagai metode, diantaranya metode tanya jawab dan diskusi, metode eksperimen dan demonstrasi, serta metode penugasan dan proyek, metode tersebut akan dibahas pada bagian selanjutnya.

  1. Strategi Keterampilan Proses

Selain CBSA dunia pendidikan kita juga mendegung-dengungkan penggunaan pendekatan keterampilan proses. Conny Semiawan (1985) mengemukakan, bahwa dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan (mengamati, menghitung, mengukur, mengklasifikasi, mengendalikan variabel, mencari hubungan ruang dan waktu, membuat hipotesis, merencanakan penelitian, menafsirkan data, menyusun kesimpulan semsntara, menerapkan serta mengkomunikasikan), anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep, serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi belajar siswa aktif. Jadi apa yang dikemukakan terdahulu tentang CBSA diperjelas oleh penggunaan pendekatan keterampilan proses ini.

Agar para siswa memperoleh sains sebagai produk dan dan proses, dalam strategi ini harus diikuti beberapa prinsip, diantaranya:

a. Dalam menyusun strategi mengajar, pengembangan keterampilan proses terintegrasi dengan pengembangan produk sains (konsep-konsep perlu di seleksi untuk menghindari banyaknya materi yang harus diajarkan), sebab perkembangan ilmiah anak pada dasarnya merupakan interaksi antara konsep-konsep, keterampilan proses sains, serta nilai-nilai dan sikap-sikap yang timbul akibat dimilikinya keterampilan proses sains.

b. Keterampilan –keterampilan proses sains, mulai dari mengamati hingga mengajukan pertanyaan, tidak perlu merupakan suatu urutan yang harus diikuti dalam mengajar sains, keterampilan-keterampilan itu diperkirakan sesuai dengan tingkat perkembangan anak di SMP.

c. Setiap metode mengajar yang diterapkan dalam pendidikan sains dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses sains.

d. Pendekatan keterampilan proses tidak menunjukan suatu dikthonomi, tetapi menunjukan suatu kontinum.

e. Dalam satu satuan waktu, baik caturwulan maupun semester, seluruh keterampilan proses sains harus pernah dikembangkan, dan tersebar pada seluruh materi yang diajarkan dalam satu satuan waktu tersebut.

  1. Strategi Konstruktivisma dalam Belajar Mengajar

Para kontruktivis menyatakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun sambil anak (yang belajar) mengatur pengalaman-pengalamanya yang terdiri atas struktur-struktur mental atau skema-skema yang sudah ada padanya. Implikasi pandangan konstruktvis pada pendidikan ialah bahwa dalam mengajar guru seharusnya memperhatikan pengetahuan yang diperoleh anak-anak dari luar sekolah, dan menunjang proses alamiah itu.

Dalam strategi ini guru harus menerima mengajar bukan sebagai proses dimana gagasan-gagasan guru diteruskan pada siswa, melainkan sebagai proses-proses untuk mengubah gagasan-gagasan siswa yang mungkin ”salah”. Salah satu metode mengajar sains untuk menerapkan model konstrktivis ialah pengguanaan siklus belajar yang terdiri atas tiga fase, yaitu fase eksplorasi, fase pengenalan konsep dan fase aplikasi konsep. Selama fase eksplorasi para siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi baru, misalnya para siswa bereksperimen. Fasa kedua ialah pengenalan konsep, yang biasanya dimulai dengan memperkenalan suatu konsep yang diselidiki dan di diskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fasa eksplorasi. Sesudah pengenalan konsep, fasa aplikasi menyediakan kesempatan bagi para siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diperkenalkan untuk menyelidiki sifat –sifat dalam eksperimen.

  1. Strategi Peta Konsep

Menurut Ausubel gagasan para penganut konstruktivis merupakan dasar teoritis bagi perbedaan antara belajar bermakna (meningful learning) dan belajar hafalan(rote learning). Dalam belajar bermakna pengetahuan baru dikaitkan pada konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif. Bila dalam struktur kognitif tidak terdapat konsep-konsep yang relevan, pengetahuan baru dipelajari secara hafalan.

Menurut Novak pembuatan peta konsep merupakan suatu teknik, untuk mengungkapkan konsep- konsep dan proposisi-proposisi. Pengungkapan ini dapat digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui para siswa sebelum ia memulai mengajarkan pokok ajaran baru. Cara yang paling baik untuk menolong para siswa belajar bermakna ialah dengan menolong mereka secara eksplisit melihat sifat dan peranan konsep-konsep dan hubungan antara konsep-konsep sebagaimana itu terdapat dalam pikiran mereka dan sebagaimana itu terdapat di luar siswa, dalam buku-buku pelajaran dan pelajaran yang diberikan guru.

  1. Strategi Berbasis Sains, Teknologi dan Masyarakat (STS)

Dalam buku Year book of The National Science Teachers Association, mengenai pendidikan sains yang harus dihubungkan dengan teknologi dan masarakat (Science Technology Society/ STS ). Namun untuk pendidikan dasar 9 tahun di negara kita belum memikirkan kurikulum sejauh itu. Alasanya kurikulum STS merupakan konsep-konsep yang belum dapat diberikan pada anak-anak yang berumur antara 7- 15 tahun, dengan pengetahuan sains yang terbatas.

2.4 Metode Pembelajaran Sains di SMP, serta Keunggulan dan Kelemahanya

Sebagaimana telah disinggung diatas bahwa metode dibedakan dengan strategi , suatu metode dapat digunakan untuk merealisasikan beberapa pendekatan atau strategi, misalnya metode eksperimen untuk pendekatan-pendekatan keterampilan proses, inkuiri, konsep dan lingkungan.

Dibawah ini metode-metode pembelajaran sains yang digunakan di SMP, diantaranya sebagai berikut:

  1. Metode Ceramah

Ceramah merupakan suatu cara penyampaian informasi secara lisan dari seorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramah dan komunikasi yang terjadi searah dari penceramah kepada pendengar. Metode ceramah ini merupakan metode belajar yang paling banyak dipakai terutama untuk bidang study noneksakta. Hal ini mungkin dianggap oleh guru sebagai metode belajar yang paling mudah dilaksanakan. Dalam metode ini pula murid-murid memperhatikan guru berbicara, mencoba menangkap apa isinya dan membuat penggalan-penggalan catatan.

Pembelajaran sains dengan metode ceramah ini memiliki keunggulan yaitu: dapat menampung kelas besar, tiap murid mempunyai kesempaan yang sama untuk mendengarkan, guru dapat memberikan tekanan terhadap hal-hal yang penting hingga waktu dan energi digunakan seefektif mungkin. Namun disamping memiliki keunggulan, metode ceramah juga memiliki kelemahan yang diantaranya proses belajar mengajar membosankan dan msiswa menjadi pasif, pengetahuan yang didapat lebih cepat terlupakan, ceramah menyebabkan belajar murid menjadi “belajar menghafal”.

  1. Metode Tanya jawab dan Diskusi

Penggunaan metode ini sering sekali dipertukarkan dalam penggunaanya. Asal ada pertanyaan-pertanyaan dari siswa atau guru dikatakan metode tanya jawab. Bila ada beberapa orang berbicara dalam kelompok-kelompok mengenai suatu masalah tertentu dikatakan metode diskusi. Perbedaan kedua metode ini yaitu pada metode tanya jawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sudah di rencanakan sebelumnya, sedangkan dalam diskusi bisa saja muncul pertanyaan, tapi pertanyaan tersebut tidak direncanakan terlebih dahulu, dilontarkan situasional pada waktu membahas topik. Yang penting dalam diskusi justru kesepakatan pendapat peserta diskusi.

  1. Metode Eksperimen dan Demonstrasi

Dalam eksperimen , semua siswa secara perorangan atau kelompok, melakukan sesuatu yang didalamanya ada pengendalian variabel, pengamatan, penyertaan pembanding atau kontrol dan penggunaan alat-alat praktikum. Dalam metode demonstrasi, guru sendiri atau dibantu beberapa orang siswa atau sekelompok siswa memperlihatkan berlangsungnya suatu proses.

  1. Metode Ekspositori

Metode ekspositori sama seperti metode ceramah, tetapi pada metode ini dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus bicara saja. Ia berbicara pada waktu yang diperlukan saja. Murid tidak hanya mendengar dan membuat catatan, dibuatnya juga soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan murid secara individual, dan menjelaskanya kembali secara individual. Pada metode ekspositori murid lebih aktif, murid mengerjakan latihan soal sendiri, mungkin juga saling tanya dan mengerjakanya bersama temanya, atau disuruh membuatnya di papan tulis.

  1. Metode Pemecahan Masalah

Menurut Robert M. Gagne, belajar dengan pemecahan masalah merupakan tipe belajar yang paling tinggi tingkatnya dan kompleks dibandingkan dengan jenis belajar lainya. Walaupun demkian penting bagi siswa sebagai bekal untuk menghadapi masa depanya. Sebab orang tidak bebas masalah. Masalah banyak macamnya: masalah keluarga, tetangga, pekerjaan, pendidikan dan lain sebagainya. Masalah dalam pembelajaran sains bagi murid adalah jika ia mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan ditinjau dari segi kematangan mentalnya, belum mempunyai prosedur untuk menyelesaikanya dan berkeinginan untuk menyelesaikanya.

Karena hal-hal diatas, maka sebenarnya suatu masalah bagi siswa yang satu, belum tentu menjadi masalah bagi yang lain. Oleh karena itu untuk menyelesaikan masalah langkah yang harus diketahui oleh seorang siswa antara lain: merumuskan permasalahan dengan jelas, melaksanakan lagi masalahnya dalam bentuk yang dapat dilaksanakan, menyusun dugaan sementara, menentukan strategi pemecahan, melaksanakan prosedur pemecahan, dan memeriksa hasil pemecahan.

2.5 Kendala yang dihadapi dalam Pembelajaran Sains

Strategi pembelajaran sains pada kenyataanya memiliki banyak kendala, kendala tersebut berasal dari faktor siswa, guru ataupun faktor lainya. Dibawah ini adalah faktor-faktor yang menghambat pembelajaran sains diantaranya:

  1. Faktor siswa

a). Tidak adanya motivasi dari siswa itu sendiri

b). Siswa beranggapan bahwa pelajaran sains sukar untuk dipahami

c). Banyak siswa yang tidak memahami pentingnya pelajaran sains

2. Faktor guru

a). Banyak guru sains yang belum sepenuhnya menguasai bidang study yang diajarkanya.

b). Banyak guru sains yang kurang mengikuti perkembangan sains.

c). Banyak guru sains yang tidak bisa membuat alat-alat peraga.

d). Banyak guru sains yang berprilaku otoriter terhadap siswa,dan tidak mencerminkan seorang guru.

3. Faktor sarana penunjang

a). Ruang kelas yang tidak kondusif, tidak punya perpustakaan

b). Laboratorium dengan alat-alat yang kurang memadai.




BAB III

FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG PEMBELAJARAN SAINS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

3.1 Faktor Guru

Untuk menunjang bagaimana terlaksanaya pendidikan sains di SMP harus diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah faktor guru. Kriteria seorang guru yang bermutu dan propesional diharapkan sebagai berikut:

1. Seorang guru sains harus menguasai bidang studi yang diajarkanya.

2. Seorang guru sains harus mempunyai keterampilan membuat atau merakit alat-alat sederhana sebagai media pendidikan

3. Seorang guru sains harus mengikuti perkembangan IPTEK, khususnya bidang study yang diajarkanya.

4. Seorang guru sains harus bisa membimbing siswa melakukan suatu kegiatan berupa pengamatan dan percobaan.

5. Seorang guru sains harus menyadari bahwa siswa tidak akan di didik menjadi seorang spesialis matematika, fisika ataupun biologi.

6. Guru sains tidak selalu mengharapkan jawaban yang benar dari siswa ketika interaksi belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dikarenakan siswa sedang berada dalam situasi mencari dan menemukan prinsip, konsep atau hukum sains.

7. Guru sains harus terampil melontarkan pertanyaan untuk merangsang siswa berpikir.

8. Guru sains tidak perlu merasa rendah diri, bila siswa menemukan hal-hal yang baru yang tidak di pahami dan diketahui guru.

9. Guru sains bertindak sebagai fasilitator dan katalisator.

10. Menyadari bahwa banyak teori sains yang hanya dapat dijelaskan dengan logika, dan tidak dapat dibuktikan dengan percobaan.

11. Menyadari bahwa kemampuan, bakat dan minat setiap siswa berbeda beda.

12. Guru sains harus menjadi contoh teladandan figur panutan, terutama dalam soal nilai dan sikap.

3.2 Faktor Memotivasi Siswa dalam Pembelajaran Sains

Telah kita ketahui betapa pentingnnya motivasi dalam kegiatan belajar-mengajar sains. Diantara motivasi yang kita kenal bahwa motivasi terpenting adalah motivasi belajar intrinsik. Namun motivasi ekstrinsik lebih mudah dibangkitkan daripada motivasi instrinsik. Sejalan dengan ini maka berbagai usaha telah dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi ektrinsik untuk belajar.

Beberapa faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi motivasi belajar di kelas adalah:

  1. Faktor interaksi antara para siswa:

a). Hubungan antarsiswa di kelas harus terjalin baik. Dalam hal ini guru wajib menciptakan kondisi yang menumbuhkan kerjasama yang baikantar seluruh anggota kelas.

b). Persaingan antara para siswa hendaknya persaingan yang sehat. Namun persaingan yang berlebih-lebihan akan berakibat negatif terhadap kemajuan belajar siswa, khususnya bagi mereka yang tidak pernah menang dalam persaingan tersebut. Dalam hal ini guru perlu menentukan kelompok-kelompok siswa yang homogen, untuk menjaga persaingan agar tetap sehat.

c). Rasa keterlibatan diri (egoinvolvement) yang menyebabkan setiap siswa yang ada di kelas tersebut merasa dirinya ikut berperan penting dalam kelasnya. Hal ini dapat diwujudkan jika diberikan suatu tugas yang melibatkan harga diri siswa untuk dipertaruhkan dalam penyelesaian tugas tersebut. Pemilihan tugas seperti ini harus hati-hati dan guru harus dapat memperkirakan bahwa seluruh siswa yang terlibat pasti mempunyai kesempatan untuk berhasil.

2. Faktor interaksi antara siswa dengan guru

a). Guru yang bersikap tertutup pasti ditakuti siswa, sehingga siswa tidak berani bertanya ataupun mengemukakan pendapatnya. Dalam hal ini guru harus bersikap terbuka kepada siswa.

b). Peraturan yang terlalu ketat yang diberikan guru, yang menyebabkan siswa seperti robot-robot tanpa kreasi berfikir sama sekali. Dalam hal ini guru harus bersikap demokratis.

c). Pujian yang diberikan kepada siswa merupakan penguatan atas tugas yang dilakukan dengan benar, sehingga akan menimbulkan motivasi untuk melakukan tugas ang lain sebaik mungkin. Namun pujian yang dilakukan secara terus menerus dapat merusak motivasi belajar siswa, bahkan menimbulkan tanggapan yang negatif dari siswa. Dalam hal ini guru perlu memperhitungkan saat yang tepat untuk menyampaikanya.

d). Hukuman yang diberikan guru dapat dalam berbagai bentuk, seperti pengasingan, celaan, kecaman, dan sindiran terhadap kesalahan siswa. Tetapi motivasi belajar akan timbul melalui hukuman yang tidak berlebihan dan diterapkan pada saat yang tepat. Dalam hal ini yang terpenting adalah menunjukan kepada siswa jalan keluar untuk mengatasi hukuman itu. Bentuk hukuman yang sering diberikan guru adalah teguran.

e). Hal- hal lain yang ikut mewarnai timbulnya motivasi belajar siswa di kelas:

v Tulisan guru harus terbaca oleh seluruh siswa;

v Sikap guru harus dapat menghargai siswa sebagai individu;

v Suara guru harus terdengar oleh seluruh siswa;

v Berpakaian harus sopan agar tidak menjadi bahan cemoohan siswa;

v Adanya kewibawaan guru dalam menangani pengelolaan kelas agar dapat dipatuhi siswa secara spontan..

3. Prinsip- Prinsip Motivasi

Motivasi siswa untuk belajar bermacam-macam yang berasal dari dalam dan luar siswa itu sendiri. Motivasi yang lebih baik berasal dari dalam siswa itu sendiri. Beberapa prinsip yang dapat memberikan motivasi belajar adalah sebagai berikut:

a) Prinsip Kebermaknaan

Seorang murid akan termotivasi untuk belajar secara aktif kalau ia menyadari bahwa apa yang di pelajari sungguh-sungguh bermanfaat baginya.

b) Prinsip Atraktif

Bahan pelajaran yang disampaikan secara menarik akan membangkitkan motivasi belajar. Gaya tarik itu timbul dari penampilan guru atau disampaikan dengan bantuan alat peraga, percobaan atau cara lain yang komunikatif.

c) Prinsip Modeling

Prinsip modeling adalah guru sebagai pribadi teladan, figur panutan dan tingkah lakunya meyakinkan.

d) Prinsip pre-rekuisit

Bahan pelajaran yang diberikan harus sedemikian urutanya sehingga bahan pelajaran terdahulu menunjang bahan pelajaran selanjutnya.

e) Prinsip penyebar jadwal

Berdasarkan pengalaman dan pendapat murid, sekolah harus menysun jadwal sedemikian, sehingga mata pelajaran yang dinilai sulit, ditempatkan pada pertemuan pertemuan pertama dan pada pagi hari.

f) Prinsip Evaluasi Hasil Belajar secara teratur

Evaluasi belajar secara teratur dan hasilnya secara terbuka dikembalikan kepada siswa akan mendidik siswa secara teratur pula. Prinsip ini akan sulit dilaksanakan apabila guru mempunyai beban mengajar yang terlalu banyak.

3.3 Faktor Sarana Penunjang

Faktor lainya yang dapat menunjang siswa adalah faktor sarana penunjang. Biasanya siswa akan termotivasi apabila mereka belajar dengan sarana yang lengkap, seperti ruang kelas yang baik, Faktor laboratorium dengan alat dan bahan yang lengkap. Juga sarana perpustakaan dan sarana belajar lainya.




BAB IV

TUJUAN AKHIR SERTA EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

4.1 Tujuan Akhir Pembelajaran Sains

Kegiatan belajar mirip dengan suatu perjalanan dari suatu titik awal kegiatan yaitu siswa tidak tahu tentang hal yang akan dipelajari, menuju pada akhir kegiatan yaitu siswa menjadi tahu, melalui proses belajar mengajar. Tujuan belajar dalam proses belajar mengajar di kelas kita kenal sebagai Tujuan Intruksional Khusus(TIK). Dengan memberitahukan TIK kepada siswa diawal pelajaran, maka siswa akan mengetahui kemana ia akan dibawa dalam proses belajar mengajar tersebut. Dengan mengenal tujuan belajar, maka siswa akan lebih giat berusaha untuk mencapai tujuan itu.jadi siswa akan termotivasi belajar.

Menurut Gagne, tujuan belajar ini dapat menggambarkan hasil-hasil belajar yang akan diraih siswa. Hasil –hasil belajar tersebut dikelompokan menjadi lima kategori, diantaranya: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap serta keterampilan motor.

4.2 Evaluasi Pembelajaran Sains

Evaluasi berfungsi untuk mengenal sejauh mana tujuan belajar telah dapat dicapai siswa, sebagai umpan balik bagi guru untuk menilai keberhasilan program belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Evaluasi harus dapat mengukur hasil belajar tersebut.

Evaluasi belajar dalam pembelajaran sains dikenal dengan istilah ulangan, dan sebagai hasilnya dinyatakan dalam bentuk nilai-nilai. Namum pada kenyataanya banyak masalah yang dialami oleh siswa dalam belajar sains, sehingga tidak mengherankan jika hasil ulangan siswa tersebut rendah. Agar evaluasi tidak menimbulkan masalah maka guru sains harus memperhatikan hal-hal berikut ini :

  1. jangan terlalu sering memberikan ulangan, karena sesuatu yang rutin tidak menimbulkan tantangan bagi siswa.
  2. Hasil ulangan yang dikembalikan kepada siswa setelah tenggang waktu yang lama, tidak akan menimbulkan motivasi belajar lagi, karena siswa sudah lupa akan permasalahan yang dibahas.
  3. Soal- soal ulangan harus sesuai tingkat kesukaranya dengan aspek dari tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan lagi sebelumnya.
  4. Pembahasan hasil ulangan yang hasilnya kurang memuaskan dapat pula meningkatkan motivasi belajar siswa.
  5. Waktu pemberian evaluasi tidak perlu selalu berdasarkan perjanjian. Pemberian ulangan secara tiba-tiba dapat pula memotivasi siswa untuk terus- menerus belajar. Tetapi tehnik ini umumnya kurang dapat diharapkan hasilnya.

Dari uraian tersebut, maka agar evaluasi pembelajaran sains memiliki nilai yang diharapkan, dapat berpedoman pada prinsip kebermaknaan yaitu: prinsip prasyarat, prinsip modeling, prinsip menarik, prinsip partisipasi, prinsip penyebaran jadwal, prinsip konsekuen dan kondisi yang menyenagkan serta prinsip komunikasi terbuka.




BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kecepatan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini menuntut adanya pembaharuan di bidang pendidikan khususnya pendidikan sains. Hal ini mengingat pentingnya sains dalam memajukan suatu bangsa. Berbagai macam strategi dan metode dilakukan untuk memajukan pendidikan sains tersebut. Diatara strategi yang banyak digunakan di sekolah-sekolah adalah: strategi belajar siswa aktif (CBSA), strategi keterampilan proses, strategi kontruktivisma peta konsep, serta strategi berbasis STS. Namun strategi STS masih belum cocok diterapkan di SMP,hal ini di karenakan konsep STS kurang dipahami oleh siswa SMP yang pengetahuan sainsnya masih sangat terbatas.

Pada kenyataanya pembelajaran sains di SMP tidak sejalan dengan apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan pada proses pembelajaran sains banyak kendala yang dihadapi, baik dari faktor guru sains, faktor siswa itu sendiri, maupun dari faktor sarana penunjang. Oleh karena itu agar pembelajaran sains dapat berjalan dengan yang diharapkan faktor- faktor penghambat pembelajaran tersebut harus dibenahi dan diperbaiki. Selain itu juga faktor yang paling penting dalam pembelajaran sains adalah faktor motivasi, baik motivasi dari dalam siswa maupun motivasi dari luar siswa.

Berbagai macam usaha diatas sebenarnya hanya sebagai faktor penunjang pembelajaran sains. Faktor yang paling penting adalah faktor motivasi siswa itu sendiri dalam belajar sains, apabila sudah ada motivasi dari dalam diri siswa maka siswa tersebut tidak akan menganggap pelajaran sains adalah suatu pelajaran yang sukar untuk dipahami, sehingga tujuan akhir dari pembelajaran sains dapat diharapkan yaitu siswa dapat menjadi tahu tentang pelajaran sains yang dipelajarinya. Apabila tujuan akhir belajar dapat diharapkan maka output yang dihasilkan yaitu siswa melek sains, melek pikir dan melek teknologi.

5.2 Saran

Untuk lebih meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran sains di SMP, maka penulis mengajukan beberapa saran, diantaranya:

1. Seorang guru sains haru bertindak dan bersikap propesional dengan siswa

2. Guru sains harus bisa memotivasi siswanya

3. Bagi sekolah-sekolah yang kurang memiliki sarana penunjang, disarankan memiliki guru yang bisa mencari alternatif lain guna menunjang pembelajaran

4. Seorang guru sains harus bisa menerima kritikan dari siapapun, agar pembelajaran sains dapat ditingkatkan.

Sebagai penutup dari makalah ini, penulis ingin menyampaikan pesan khusus yang harus diingat oleh calon guru atau guru sains, yaitu keberhasilan seorang guru sains bukan dilihat dari berapa banyak materi sains yang diberikan kepada siswa, melainkan berapa banyak materi yang diserap, dipahami, dan dimengerti oleh siswa.




DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pendidikan Menengah. 1995. Evaluasi Efektifitas Pengadaan Alat IPA. Laporan Penelitian. Jakarta: Depdikbud .

Hudojo, Herman. 1979. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Surabaya: Usaha Nasional.

Karso dkk. 1994. Dasar-dasar Pendidikan MIPA. Jakarta: Depdikbud.

Nasution, A. H. 2000. Ilmu Untuk Kehidupan dan Penghidupan. Yogyakarta: Kanisius.

Pramono, Hadi. 2008. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Cirebon: STAIN Press.

Puskur. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Mata Pelajran Sain Sekolah dasar. Jakarta: Depdiknas.a

Raka Joni, T. 1980. Cara Belajar Siswa Aktif, Implikasinya Terhadap Sistem Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.

Ratna W. Dahar. Kesiapan Guru Megajarkan Sains di Sekolah, Ditinjau dari Segi Pengembangan Keterampilan Proses Sains. Bandung: FSP-IKIP.

Rustad, S. A. Munandar, & Dwiyanto. 2004. Analisa Sarana dan Prasarana Pendidikan SD, SMP, SMA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Suyono. 1981. Usaha-usaha Membangkitkan Minat Terhadap Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Wiyanto. 2008. Menyiapkan Guru Sains Mengembangkan Kopmpetensi Laboratorium. Semarang: UNNES PRESS..

daftar mahasiswa biologi c stain cirebon 07/08

11 7160882 571157 ABDUL AZIZ TARBIYAH T.IPA Bio – 3
12 7160883 571036 ABDURRAHMAN TARBIYAH T.IPA Bio – 3
13 7160884 570904 ACHMAD HAMBALI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
14 7160885 571230 ADE HERMANSYAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
15 7160886 570914 ADE KURNIASIH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
16 7160887 5700581 AHIB MAWAHIBUS SOMAD TARBIYAH T.IPA Bio – 3
17 7160888 570911 ALI IMRON TARBIYAH T.IPA Bio – 3
18 7160889 571091 AULIA ‘UR’ RAHMAN PERWIRA PUTRA TARBIYAH T.IPA Bio – 3
19 7160890 571053 DANI SOFILAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
20 7160891 570969 DESTI DESTYANA TARBIYAH T.IPA Bio – 3
21 7160892 5700451 EKAWATI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
22 7160893 571033 HIKMAH SRI AFIYATI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
23 7160894 571109 JULAEKHAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
24 7160895 5700501 KOMARUDIN TARBIYAH T.IPA Bio – 3
25 7160896 571060 KONIPAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
26 7160897 571181 LUTFI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
27 7160898 570988 MAGHFIROH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
28 7160899 571068 MUASROMATUL AZIZAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
29 7160900 570891 MUDATSIR TARBIYAH T.IPA Bio – 3
30 7160901 570922 MUHAMAD TAUFIK TARBIYAH T.IPA Bio – 3
1 7160902 571195 MUZDALIFAH TUNNUR TARBIYAH T.IPA Bio – 3
2 7160903 570955 NADINA TARBIYAH T.IPA Bio – 3
3 7160904 571082 NUR ROHMAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
4 7160905 570896 NUR SYA’ADAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
5 7160906 571188 NURKHANAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
6 7160907 571210 PIKIH APANDI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
7 7160908 5700611 RATNO TARBIYAH T.IPA Bio – 3
8 7160909 5701011 RIA SEPTIYANI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
9 7160910 570931 SITI MAEMUNAH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
10 7160911 571178 SITI MAGHFUROH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
11 7160912 570901 SITI ROFIQOH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
12 7160913 571124 SUSENO SEPRINIONO TARBIYAH T.IPA Bio – 3
13 7160914 570872 SUSI SUSANTI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
14 7160915 570875 TARJAKI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
15 7160916 571069 TEDI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
16 7160917 571012 TRY LESTARI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
17 7160918 571155 UMAROH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
18 7160919 571016 VIVI AVIROH TARBIYAH T.IPA Bio – 3
19 7160920 571018 YATI ROHAYATI TARBIYAH T.IPA Bio – 3
20 7160921 571134 YUDHI PERMANA TARBIYAH T.IPA Bio – 3